Showing posts with label Historical Figures. Show all posts
Showing posts with label Historical Figures. Show all posts

Thursday, May 1, 2008

Berbulan Madu dengan Bidadari…

"Azri Al Aziz" kanda.azri@yahoo.com

Salamun'alaik Warahmatullahi Ta'ala Wabarakatuh. .

Salam serta selawat ke atas Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam, ahli keluarga baginda serta salam kepada para sahabat yang berjuang menegakkan Islam di muka bumi ini.

Berbulan Madu dengan Bidadari…

Pada zaman Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam datang dan mengucapkan salam. Zahid kaku dan menjawabnya agak gugup.

"Wahai saudaraku Zahid….selama ini engkau sendiri saja," Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam menyapa.

"Allah bersamaku ya Rasulullah," kata Zahid.

"Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah…," kata Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam.

Zahid menjawab, "Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku hodoh, siapa yang mahu akan diriku ya Rasulullah?"

" Asal engkau mahu, itu urusan yang mudah!" kata Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam.

Kemudian Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawa ke rumah Zahid dan ia diserah sendiri oleh Zahid ke rumah Said. Disebabkan di rumah Said sedang ada tetamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.

"Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku."

Said menjawab, "Adalah suatu kehormatan buatku."

Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya
seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, "Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?"

Zahid menjawab, "Apakah engkau pernah melihat aku berbohong…."

Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, "Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini…. bukankah lebih baik dijemput masuk?"

"Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya," kata ayahnya.

Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, "Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya
menginginkan aku, aku tak mau ayah…..!" dan Zulfah merasa dirinya terhina.

Maka Said berkata kepada Zahid, "Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau…bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahawa lamaranmu ditolak."

Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, "Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?"

Akhirnya Said berkata, "Lamaran ke atasmu ini adalah perintah Rasulullah."

Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah, kenapa sejak tadi
ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dinikahkan dengan pemuda ini. Kerena ingat firman Allah dalam
Al-Qur'an surah An Nur 24 : Ayat 51. "Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. An Nur 24:Ayat 51)"

Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada taranya dan segera melangkah pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

"Bagaimana Zahid?"

"Alhamdulillah ia diterima ya Rasul," jawab Zahid.

"Sudah ada persiapan?"

Zahid menundukkan kepala sambil berkata, "Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa."

Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Uthman, dan Abdurrahman bin Auf. Setelah mendapatkan wang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam keadaan itu jugalah Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam menyeru umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, "Ada apa ini?"

Sahabat menjawab, "Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengetahui?" .

Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, "Wah jika begitu perlengkapan nikah ini akan aku jual dan akan ku beli kuda yang terbaik."

Para sahabat menasihatinya, "Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?"

Zahid menjawab dengan tegas, "Itu tidak mungkin!"

Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu
usahakan, perniagaan yang kamu khuatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu daripada cintakan Allah dan Rasul-Nya (dengan) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (QS At Taubah: Ayat 24).

Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.

Rasulullah berkata, "Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah."

Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur'an;

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan kurnia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Surah Ali Imran Ayat 169-170.

"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi
kamu tidak menyadarinya. " (Al Baqarah :Ayat 154).

Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun berkata, "Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak dapat mendampinginya di dunia, maka izinkanlah aku mendampinginya di akhirat."

HIKMAH
Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa menjadi renungan buat kita bahwa, "Untuk Allah di atas segalanya, and die as syuhada." Jazakumullah.

**__________ _________ _________ _________ _________ **

Demi Allah, Demi Rasul, Demi Islam Yang Tercinta..
Subhanallah Wallhamdulillah Wala Ilaha Illallah Allahu Akhbar..

**__________ _________ _________ _________ _________ **


Tidak Sejahat Firaun

"Street Knowledge" naxyla@hotmail.com

Khalifah Al-Makmun memang kurang disukai oleh rakyatnya. Banyak ulama dan orang salih yang memusuhinya. Bahkan sejarah mencatat beberapa nodahitam dalam masa pemerintahannya.

Oleh kerana itu, acap kali mimbar-mimbar agama dimanfaatkan oleh para mubalig untuk menyerukan masyarakat agar lebih bersungguh-sungguh melawan kemungkaran dan kezaliman para penguasa. Namun sejauh itu, tidak ada yang berani menunjuk hidung dan dengan terang-terangan mencacinya.

Pada suatu Jumaat, Khalifah Al-Makmun mengunjungi Bashrah. Ia ikut sholat di masjid agung kota kelahiran Imam Hasan Al-Bashri itu. Tiba-tiba sang khatib dalam khutbahnya menyebut namanya dengan nada tidak sopan dan membongkar serta menuduh keculasan-keculasan secara kasar. Khalifah mengelus dada. Siapa tahu khatib itu cuma terbawa emosi akibat hawa panas yang sedang menyengat seluruh negeri?

Kali yang lain, ketika Khalifah menjalankan sholat jemaah di mesjid yang berbeza, kebetulan khatibnya sama, seperti pada waktu ia bersembahyang di masjid agung Bashrah. Dan khatib itu mengulangi kembali makian serta kutukan-kutukannya kepada Al-makmun. Di antaranya sang khatib berdoa, "Mudah-mudahan Khalifah yang sewenang-wenang ini dilaknat oleh Allah s.w.t." Maka habislah kesabaran Al-Makmun. Khatib itu diperintahkan untuk datang menghadap ke istana. Setengah dipaksa, khatib tersebut akhirnya mahu juga mengunjungi Khalifah.

Kepada khatib yang keras itu Al-Makmun betanya, "Kira-kira, manakah yang lebih baik, tuan atau Nabi Musa?" Tanpa berfikir lagi, sang khatib yang galak itu menjawab, "Sudah tentu Nabi Musa lebih baik daripada saya. Tuan pun tahu bukan?" "Ya,ya. Saya fikir begitu," sahut Al-Makmun. "lalu, siapakah menurut pendapat tuan yang lebih jahat, saya atau Firaun?" Disini sang khatib terperangah. Ia sudah boleh menduga kemana tujuna pertanyaan itu. Namun ia harus menjawab sejujurnya. Maka ia lantas berkata, "Pada hemat saya, Firaun masih lebih jahat daripada tuan."

Al-Makmun kemudian menegur, "Maaf, tuan. Seingat saya, bagaimana pun jahatnya Firaun, sampai ia mengaku tuhan, dan bertindak kejam kepada umat Nabi Musa, malah telah menebus hidup-hidup dayang-dayang putrinya yang bernama Masyitah beserta susuannya, pun Nabi Musa diperintahkan Allah untuk berkata dengan lemah lembut kepada si zalim itu. Tolong dapatkah tuan membacakan buat saya perintah Allah yang dimuat dalam Al-Quran tersebut?"
Tergagap-gagap sang khatib membacakan surah Thoha ayat 44 yang artinya: "Berikanlah, hai Musa dan Harun, kepada Firaun nasihat-nasihat yang baik dengan bahasa yang halus, mudah-mudahan ia mahu ingat dan menjadi takut kepada Allah."

Khalifah Al-Makmun tersenyum sebelum dengan tegas bertitah,"kerana itu, pantas bukan kalau saya meminta tuan untuk menegur saya dengan bahasa yang lebih sopan dan sikap yang lebih bertata krama? Lantaran tuan tidak sebaik Nabi Musa dan saya tidak sejahat Firaun? Ataukah barangkali tuan mempunya Al-Quran lain yang memuat ayat 44 surat Thaha itu?"
Khatib tersebut tidak boleh menjawab sepatah pun. Hatinya tidak puas, rasanya masih ingin mengutuk Al-Makmun dengan kalimat yang lebih garang dan keras. Akan tetapi, bagaimanapun pahitnya, perintah Allah harus dipatuhi, ayat Al-Quran harus dipegang. Kerananya, sejak saat itu ia berkhutbah dengan nada yang berubah dan isi yang lebih menyentuh. Terbukti, dengan cara itu, makin banyak masyarakat yang terpikat dengan pengajaran-pengajar annya, lalu berbalik langkah dari dunia hitam yang penuh maksiat, untuk bertaubat melaksanakan ibadah yang lebih taat.

Melalui mimbar-mimbarnya, ia sudah berani lantang mengutip surah An-Nahl ayat 125 yang berbunyi : "Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana, dengan nasihat yang baik, dan berhujahlah kepada mereka dengan landasan yang lebih mendalam."

Nyatanya, acap kali manusia dapat menggali mutiara dari lumpur laut yang hitam legam. Sebab dari seekor ular yang berbisa dan menjijikkan, keluarlah berbutir-butir telur yang halal dimakan. Maka patutlah apabila Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah berpesan, "lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan melihat siapa yang mengatakan."

Sunday, April 20, 2008

Khalifah Umar Abd Aziz

Khalifah Umar Abd Aziz
Posted on Thursday, April 17 @ 00:02:48 MYT by SongkokPutih
Kisah Pengajaran Oleh kmn555

"
Umar bin Abdul Aziz r.a.
(61 - 101 H)

Saat itu tengah malam di kota Madinah. Kebanyakan warga kota sudah tidur. Umar bin Khatab r.a. berjalan menyelusuri jalan-jalan di kota. Dia coba untuk tidak melewatkan satupun dari pengamatannya. Menjelang dini hari, pria ini lelah dan memutuskan untuk beristirahat. Tanpa sengaja, terdengarlah olehnya percakapan antara ibu dan anak perempuannya dari dalam rumah dekat dia beristirahat.



"Nak, campurkanlah susu yang engkau perah tadi dengan air," kata sang ibu.



"Jangan ibu. Amirul mukminin sudah membuat peraturan untuk tidak menjual susu yang dicampur air," jawab sang anak.



"Tapi banyak orang melakukannya Nak, campurlah sedikit saja. Tho insyaallah Amirul Mukminin tidak mengetahuinya, " kata sang ibu mencoba meyakinkan anaknya.



"Ibu, Amirul Mukminin mungkin tidak mengetahuinya. Tapi, Rab dari Amirul Mukminin pasti melihatnya," tegas si anak menolak.



Mendengar percakapan ini, berurailah air mata pria ini. Karena subuh menjelang, bersegeralah dia ke masjid untuk memimpin shalat Subuh. Sesampai di rumah, dipanggilah anaknya untuk menghadap dan berkata, "Wahai Ashim putra Umar bin Khattab. Sesungguhnya tadi malam saya mendengar percakapan istimewa. Pergilah kamu ke rumah si anu dan selidikilah keluarganya. "



Ashim bin Umar bin Khattab melaksanakan perintah ayahndanya yang tak lain memang Umar bin Khattab, Khalifah kedua yang bergelar Amirul Mukminin. Sekembalinya dari penyelidikan, dia menghadap ayahnya dan mendengar ayahnya berkata,



"Pergi dan temuilah mereka. Lamarlah anak gadisnya itu untuk menjadi isterimu. Aku lihat insyaallah ia akan memberi berkah kepadamu dan anak keturunanmu. Mudah-mudahan pula ia dapat memberi keturunan yang akan menjadi pemimpin bangsa."



Begitulah, menikahlah Ashim bin Umar bin Khattab dengan anak gadis tersebut. Dari pernikahan ini, Umar bin Khattab dikaruniai cucu perempuan bernama Laila, yang nantinya dikenal dengan Ummi Ashim. Suatu malam setelah itu, Umar bermimpi. Dalam mimpinya dia melihat seorang pemuda dari keturunannya, bernama Umar, dengan kening yang cacat karena luka. Pemuda ini memimpin umat Islam seperti dia memimpin umat Islam. Mimpi ini diceritakan hanya kepada keluarganya saja. Saat Umar meninggal, cerita ini tetap terpendam di antara keluarganya.




Pada saat kakeknya Amirul Mukminin Umar bin Khattab terbunuh pada tahun 644 Masehi, Ummi Ashim turut menghadiri pemakamannya. Kemudian Ummi Ashim menjalani 12 tahun kekhalifahan Ustman bin Affan sampai terbunuh pada tahun 656 Maserhi. Setelah itu, Ummi Ashim juga ikut menyaksikan 5 tahun kekhalifahan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Hingga akhirnya Muawiyah berkuasa dan mendirikan Dinasti Umayyah.



Pergantian sistem kekhalifahan ke sistem dinasti ini sangat berdampak pada Negara Islam saat itu. Penguasa mulai memerintah dalam kemewahan. Setelah penguasa yang mewah, penyakit-penyakit yang lain mulai tumbuh dan bersemi. Ambisi kekuasaan dan kekuatan, penumpukan kekayaan, dan korupsi mewarnai sejarah Islam dalam Dinasti Umayyah. Negara bertambah luas, penduduk bertambah banyak, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, tapi orang-orang semakin merindukan ukhuwah persaudaraan, keadilan dan kesahajaan Ali, Utsman, Umar, dan Abu Bakar. Status kaya-miskin mulai terlihat jelas, posisi pejabat-rakyat mulai terasa. Kafir dhimni pun mengeluhkan resahnya, "Sesungguhnya kami merindukan Umar, dia datang ke sini menanyakan kabar dan bisnis kami. Dia tanyakan juga apakah ada hukum-hukumnya yang merugikan kami. Kami ikhlas membayar pajak berapapun yang dia minta. Sekarang, kami membayar pajak karena takut."



Kemudian Muawiyah membaiat anaknya Yazid bin Muawiyah menjadi penggantinya. Tindakan Muawiyah ini adalah awal malapetaka dinasti Umayyah yang dia buat sendiri. Yazid bukanlah seorang amir yang semestinya. Kezaliman dilegalkan dan tindakannya yang paling disesali adalah membunuh sahabat-sahabat Rasul serta cucunya Husein bin Ali bin Abi Thalib. Yazid mati menggenaskan tiga hari setelah dia membunuh Husein.



Akan tetapi, putra Yazid, Muawiyah bin Yazid, adalah seorang ahli ibadah. Dia menyadari kesalahan kakeknya dan ayahnya dan menolak menggantikan ayahnya. Dia memilih pergi dan singgasana dinasti Umayah kosong. Terjadilah rebutan kekuasaan dikalangan bani Umayah. Abdullah bin Zubeir, seorang sahabat utama Rasulullah dicalonkan untuk menjadi amirul mukminin. Namun, kelicikan mengantarkan Marwan bin Hakam, bani Umayah dari keluarga Hakam, untuk mengisi posisi kosong itu dan meneruskan sistem dinasti. Marwan bin Hakam memimpin selama sepuluh tahun lebih dan lebih zalim daripada Yazid.



Kelahiran Umar bin Abdul Aziz

Saat itu, Ummi Ashim menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan. Abdul Aziz adalah Gubernur Mesir di era khalifah Abdul Malik bin Marwan (685 - 705 M) yang merupakan kakaknya. Abdul Mallik bin Marwan adalah seorang shaleh, ahli fiqh dan tafsir, serta raja yang baik terlepas dari permasalahan ummat yang diwarisi oleh ayahnya (Marwan bin Hakam) saat itu.


Dari perkawinan itu, lahirlah Umar bin Abdul Aziz. Beliau dilahirkan di Halawan, kampung yang terletak di Mesir, pada tahun 61 Hijrah. Umar kecil hidup dalam lingkungan istana dan mewah. Saat masih kecil Umar mendapat kecelakaan. Tanpa sengaja seekor kuda jantan menendangnya sehingga keningnya robek hingga tulang keningnya terlihat. Semua orang panik dan menangis, kecuali Abdul Aziz seketika tersentak dan tersenyum. Seraya mengobati luka Umar kecil, dia berujar,



"Bergembiralah engkau wahai Ummi Ashim. Mimpi Umar bin Khattab insyaallah terwujud, dialah anak dari keturunan Umayyah yang akan memperbaiki bangsa ini."



Umar bin Abdul Aziz menuntut ilmu sejak beliau masih kecil. Beliau sentiasa berada di dalam majlis ilmu bersama-sama dengan orang-orang yang pakar di dalam bidang fikih dan juga ulama-ulama. Beliau telah menghafaz al-Quran sejak masih kecil. Merantau ke Madinah untuk menimba ilmu pengetahuan. Beliau telah berguru dengan beberapa tokoh terkemuka spt Imam Malik b. Anas, Urwah b. Zubair, Abdullah b. Jaafar, Yusuf b. Abdullah dan sebagainya. Kemudian beliau melanjutkan pelajaran dengan beberapa tokoh terkenal di Mesir.



Semasa Khalifah Walid bin Abdul Malik memerintah, beliau memegang jawatan gabernur Madinah/Hijaz dan berjaya mentadbir wilayah itu dengan baik. Ketika itu usianya lebih kurang 28 tahun. Pada zaman Sulaiman bin Abdul Malik memerintah, beliau dilantik menjadi menteri kanan dan penasihat utama khalifah. Pada masa itu usianya 33 tahun.




Umar bin Abdul Aziz mempersunting Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan sebagai istrinya. Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan adalah putri dari khalifah Abdul Malik bin Marwan. Demikian juga, keempat saudaranya pun semua khalifah, yaitu Al Walid Sulaiman, Al Yazid, dan Hisyam. Ketika Fatimah dipinang untuk Umar bin Abdul Aziz, pada waktu itu Umar masih layaknya orang kebanyakan bukan sebagai calon pemangku jabatan khalifah.




Pengangkatan Umar bin Abdul Aziz sebagai Khalifah

Atas wasiat yang dikeluarkan oleh khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah pada usianya 37 tahun. Beliau dilantik menjadi Khalifah selepas kematian Sulaiman bin Abdul Malik tetapi beliau tidak suka kepada pelantikan tersebut. Lalu beliau memerintahkan supaya memanggil orang ramai untuk mendirikan sembahyang. Selepas itu orang ramai mula berpusu-pusu pergi ke masjid. Apabila mereka semua telah berkumpul, beliau bangun menyampaikan ucapan. Lantas beliau mengucapkan puji-pujian kepada Allah dan berselawat kepada Nabi s.a.w kemudian beliau berkata:



"Wahai sekalian umat manusia! Aku telah diuji untuk memegang tugas ini tanpa meminta pandangan daripada aku terlebih dahulu dan bukan juga permintaan daripada aku serta tidak dibincangkan bersama dengan umat Islam. Sekarang aku membatalkan baiah yang kamu berikan kepada aku dan pilihlah seorang Khalifah yang kamu reda".


Tiba-tiba orang ramai serentak berkata:



"Kami telah memilih kamu wahai Amirul Mukminin dan kami juga reda kepada kamu. Oleh yang demikian perintahlah kami dengan kebaikan dan keberkatan".



Lalu beliau berpesan kepada orang ramai supaya bertakwa, zuhud kepada kekayaan dunia dan mendorong mereka supaya cintakan akhirat kemudian beliau berkata pula kepada mereka: "Wahai sekalian umat manusia! Sesiapa yang taat kepada Allah, dia wajib ditaati dan sesiapa yang tidak taat kepada Allah, dia tidak wajib ditaati oleh sesiapapun. Wahai sekalian umat manusia! Taatlah kamu kepada aku selagi aku taat kepada Allah di dalam memimpin kamu dan sekiranya aku tidak taat kepada Allah, janganlah sesiapa mentaati aku". Setelah itu beliau turun dari mimbar.



Umar rahimahullah pernah menghimpunkan sekumpulan ahli fekah dan ulama kemudian beliau berkata kepada mereka: "Aku menghimpunkan kamu semua untuk bertanya pendapat tentang perkara yang berkaitan dengan barangan yang diambil secara zalim yang masih berada bersama-sama dengan keluarga aku?" Lalu mereka menjawab: "Wahai Amirul Mukminin! perkara tersebut berlaku bukan pada masa pemerintahan kamu dan dosa kezaliman tersebut ditanggung oleh orang yang mencerobohnya. " Walau bagaimanapun Umar tidak puas hati dengan jawapan tersebut sebaliknya beliau menerima pendapat daripada kumpulan yang lain termasuk anak beliau sendiri Abdul Malik yang berkata kepada beliau: "Aku berpendapat bahawa ia hendaklah dikembalikan kepada pemilik asalnya selagi kamu mengetahuinya. Sekiranya kamu tidak mengembalikannya, kamu akan menanggung dosa bersama-sama dengan orang yang mengambilnya secara zalim." Umar berpuas hati mendengar pendapat tersebut lalu beliau mengembalikan semula barangan yang diambil secara zalim kepada pemilik asalnya.


Sesudah Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah dan Amirul Mukminin, Umar langsung mengajukan pilihan kepada Fatimah, isteri tercinta.

Umar berkata kepadanya, "Isteriku sayang, aku harap engkau memilih satu di antar dua."


Fatimah bertanya kepada suaminya, "Memilih apa, kakanda?"
Umar bin Abdul Azz menerangkan, "Memilih antara perhiasan emas berlian yang kau pakai dengan Umar bin Abdul Aziz yang mendampingimu. "
Kata Fatimah, "Demi Allah, Aku tidak memilih pendamping lebih mulia daripadamu, ya Amirul Mukminin. Inilah emas permata dan seluruh perhiasanku. "



Kemudian Khalifah Umar bin Abdul Aziz menerima semua perhiasan itu dan menyerahkannya ke Baitulmal, kas Negara kaum muslimin. Sementara Umar bin Abdul Aziz dan keluarganya makan makanan rakyat biasa, yaitu roti dan garam sedikit.


Setelah menjadi khalifah, beliau mengubah beberapa perkara yang lebih mirip kepada sistem feodal. Di antara perubahan awal yang dilakukannya ialah :


1) menghapuskan cacian terhadap Saidina Ali b Abu Thalib dan keluarganya yang disebut dalam khutbah-khutbah Jumaat dan digantikan dengan beberapa potongan ayat suci al-Quran


2) merampas kembali harta-harta yang disalahgunakan oleh keluarga Khalifah dan mengembalikannya ke Baitulmal


3) memecat pegawai-pegawai yang tidak cekap, menyalahgunakan kuasa dan pegawai yang tidak layak yang dilantik atas pengaruh keluarga Khalifah


4) menghapuskan pegawai pribadi bagi Khalifah sebagaimana yang diamalkan oleh Khalifah terdahulu. Ini membolehkan beliau bebas bergaul dengan rakyat jelata tanpa sekatan tidak seperti khalifah dahulu yang mempunyai pengawal peribadi dan askar-askar yang mengawal istana yang menyebabkan rakyat sukar berjumpa.



Selain daripada itu, beliau amat menitilberatkan tentang kebajikan rakyat miskin di mana beliau juga telah menaikkan gaji buruh sehingga ada yang menyamai gaji pegawai kerajaan.



Beliau juga amat menitikberatkan penghayatan agama di kalangan rakyatnya yang telah lalai dengan kemewahan dunia. Khalifah umar telah memerintahkan umatnya mendirikan solat secara berjammah dan masjid-masjid dijadikan tempat untuk mempelajari hukum Allah sebegaimana yang berlaku di zaman Rasulullah SAW dan para Khulafa� Ar-Rasyidin. Baginda turut mengarahkan Muhammad b Abu Bakar Al-Hazni di Mekah agar mengumpul dan menyusun hadith-hadith Raulullah SAW. Beliau juga meriwayatkan hadis dari sejumlah tabiin lain dan banyak pula ulama hadis yang meriwayatkan hadis daripada beliau.



Dalam bidang ilmu pula, beliau telah mengarahkan cendikawan Islam supaya menterjemahkan buku-buku kedoktoran dan pelbagai bidang ilmu dari bahasa Greek, Latin dan Siryani ke dalam bahasa Arab supaya senang dipelajari oleh umat Islam.



Dalam mengukuhkan lagi dakwah Islamiyah, beliau telah menghantar 10 orang pakar hukum Islam ke Afrika Utara serta menghantar beberapa orang pendakwah kepada raja-raja India, Turki dan Barbar di Afrika Utara untuk mengajak mereka kepada Islam. Di samping itu juga beliau telah menghapuskan bayaran Jizyah yang dikenakan ke atas orang yang bukan Islam dengan harapan ramai yang akan memeluk Islam.



Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang terkenal dengan keadilannya telah menjadikan keadilan sebagai keutamaan pemerintahannya. Beliau ingin semua rakyat dilayani dengan adil tidak memandang keturunan dan pangkat supaya keadilan dapat berjalan dengan sempurna. Keadilan yang beliau perjuangan adalah menyamai keadilan di zaman kakeknya, Khalifah Umar Al-Khatab.



Pada masa pemerintahan beliau, kerajaan Umaiyyah semakin kuat tiada pemberontakan dalaman, kurang berlaku penyelewengan, rakyat mendapat layanan yang sewajarnya dan menjadi kaya-raya hinggakan Baitulmal penuh dengan harta zakat kerana tiada lagi orang yang mahu menerima zakat. Rakyat umumnya sudah kaya ataupun sekurang-kurangnya mau berdikari sendiri. Pada zaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz ra, pasukan kaum muslimin sudah mencapai pintu kota Paris di sebelah barat dan negeri Cina di sebelah timur. Pada waktu itu kekausaan pemerintahan di Portugal dan Spanyol berada di bawah kekuasaannya.




Kematian beliau

Beliau wafat pada tahun 101 Hijrah ketika berusia 39 tahun. Beliau memerintah hanya selama 2 tahun 5 bulan saja. Setelah beliau wafat, kekhalifahan digantikan oleh iparnya, Yazid bin Abdul Malik.



Muhammad bin Ali bin Al-Husin rahimahullah berkata tentang beliau: "Kamu telah sedia maklum bahwa setiap kaum mempunyai seorang tokoh yang menonjol dan tokoh yang menonjol dari kalangan Bani Umaiyyah ialah Umar bin Abdul Aziz, beliau akan dibangkitkan di hari kiamat kelak seolah-olah beliau satu umat yang berasingan."



Terdapat banyak riwayat dan athar para sahabat yang menceritakan tentang keluruhan budinya. Di antaranya ialah :


1) At-Tirmizi meriwayatkan bahwa Umar Al-Khatab telah berkata : �Dari anakku (zuriatku) akan lahir seorang lelaki yang menyerupainya dari segi keberaniannya dan akan memenuhkan dunia dengan keadilan�


2) Dari Zaid bin Aslam bahawa Anas bin Malik telah berkata : �Aku tidak pernah menjadi makmum di belakang imam selepas wafatnya Rasulullah SAW yang mana solat imam tersebut menyamai solat Rasulullah SAW melainkan daripada Umar bin Abdul Aziz dan beliau pada masa itu adalah Gabenor Madinah�


3) Al-Walid bin Muslim menceritakan bahawa seorang lelaki dari Khurasan telah berkata : �Aku telah beberapa kali mendengar suara datang dalam mimpiku yang berbunyi : �Jika seorang yang berani dari Bani Marwan dilantik menjadi Khalifah, maka berilah baiah kepadanya kerana dia adalah pemimpin yang adil�.� Lalu aku menanti-nanti sehinggalah Umar b. Abdul Aziz menjadi Khalifah, akupun mendapatkannya dan memberi baiah kepadanya�.


4) Qais bin Jabir berkata : �Perbandingan Umar b Abdul Aziz di sisi Bani Ummaiyyah seperti orang yang beriman di kalangan keluarga Firaun�


5) Hassan al-Qishab telah berkata :�Aku melihat serigala diternak bersama dengan sekumpulan kambing di zaman Khalifah Umar Ibnu Aziz�


6) Umar b Asid telah berkata :�Demi Allah, Umar Ibnu Aziz tidak meninggal dunia sehingga datang seorang lelaki dengan harta yang bertimbun dan lelaki tersebut berkata kepada orang ramai :�Ambillah hartaku ini sebanyak mana yang kamu mahu�. Tetapi tiada yang mahu menerimanya (kerana semua sudah kaya) dan sesungguhnya Umar telah menjadikan rakyatnya kaya-raya�


7) �Atha� telah berkata : �Umar Abdul Aziz mengumpulkan para fuqaha� setiap malam. Mereka saling ingat memperingati di antara satu sama lain tentang mati dan hari qiamat, kemudian mereka sama-sama menangis kerana takut kepada azab Allah seolah-olah ada jenayah di antara mereka.�


Wallahu a'lam...

sumber:
http://cafe. degromiest. nl/node/260
http://permai1. tripod.com/ umaraziz. html
http://kotasantri. com/galeria. php?aksi= DetailArtikel&artid=120

KATA -KATA HIKMAH KHULAFA' AR-RASYIDIN

"mohd noh" noh_scorp@yahoo.com

SAIDINA ABU BAKAR RADHIALLAHU ANHU BERKATA:

Orang yang bakhil itu tidak akan terlepas daripada salah satu daripada 4 sifat yang membinasakan iaitu:

  1. Ia akan mati dan hartanya akan diambil oleh warisnya, lalu dibelanjakan bukan pada tempatnya atau;
  2. hartanya akan diambil secara paksa oleh penguasa yang zalim atau;
  3. hartanya menjadi rebutan orang-orang jahat dan akan dipergunakan untuk kejahatan pula atau;
  4. adakalanya harta itu akan dicuri dan dipergunakan secara berfoya-foya pada jalan yang tidak berguna

SAIDINA UMAR AL-KHATTAB RADHIALLAHU ANHU BERKATA:

  1. Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya
  2. Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina
  3. Orang yang menyintai akhirat, dunia pasti menyertainya
  4. Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga


SAIDINA UTHMAN BIN AFFAN RADHIALLAHU ANHU BERKATA:

Antara tanda-tanda orang yang bijaksana itu ialah:

  1. Hatinya selalu berniat suci
  2. Lidahnya selalu basah dengan zikrullah
  3. Kedua matanya menangis kerana penyesalan (terhadap dosa)
  4. Segala perkara dihadapaiya dengan sabar dan tabah
  5. Mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia.


SAIDINA ALI KARRAMALLAHU WAJHAH BERKATA:

  1. Tiada solat yang sempurna tanpa jiwa yang khusyu'
  2. Tiada puasa yang sempurna tanpa mencegah diri daripada perbuatan yang sia-sia
  3. Tiada kebaikan bagi pembaca al-Qur'an tanpa mengambil pangajaran daripadanya
  4. Tiada kebaikan bagi orang yang berilmu tanpa memiliki sifat wara'
  5. Tiada kebaikan mengambil teman tanpa saling sayang-menyayangi
  6. Nikmat yang paling baik ialah nikmat yang kekal dimiliki
  7. Doa yang paling sempurna ialah doa yang dilandasi keikhlasan
  8. Barangsiapa yang banyak bicara, maka banyak pula salahnya, siapa yang banyak salahnya, maka hilanglah harga dirinya, siapa yang hilang harga dirinya, bererti dia tidak wara', sedang orang yang tidak wara' itu bererti hatinya mati

Saturday, April 12, 2008

Abul Hasan al-Asya�ari

"Mohd Yaakub" akob73@yahoo.com

Abul Hasan al-Asya�ari
Oleh: Ustaz Mukhamad Khafiz Abd Basir, Graduan
Universiti Madinah.

Nama beliau ialah Ali bin Ismail bin Abi Basyar Ishak
bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal
bin Abi Burdah bin Abi Musa al-Asyari. Dilahirkan pada
260[1] hijrah di Basrah , Iraq yang kemudian menduduki
Baghdad . Ayahnya telah meninggal dunia ketika beliau
masih kecil. Kemudian ibunya pula dinikahi oleh
seorang tokoh besar dalam mazhab Muktazilah iaitu Abu
Ali al-Jabai�[2]. Ini adalah faktor terbesar yang
menyebabkan imam Abul Hasan terpengaruh dengan mazhab
Muktazilah.[ 3]

Kelebihan ini juga menjadikan imam Abul
Hasan seorang yang hebat dalam ilmu kalam dan aqidah
Muktazilah sehinggalah beliau dengan mudah dapat
menolak dan menjawab kesesatan mereka setelah beliau
diberi hidayah oleh Allah Taala untuk mengenali aqidah
ahli Sunnah. Situasi yang di alaminya juga memberi
kesan buruk kepada latar belakang hidupnya yang secara
tidak langsung berpaling dari mendalami ilmu hadis
kepada ilmu kalam. Kalaulah beliau tidak hidup dalam
situasi ini kemungkinan besar beliau telah menempa
nama yang hebat dalam bidang hadis ataupun fiqh.

Beliau telah mendalami banyak bidang ilmu,
ini dapat diketahui melalui peninggalan turas-turas
ilmunya khususnya dalam bidang ilmu Firaq dan Adyan
dengan penentangannya yang hebat terhadap pegangan
Majusi, Khawarij, Musyabbihah, ar-Rafidhah, Qadariah
dan sebagainya. Selain itu beliau juga mempunyai
karangan dalam ilmu Sirah, Ulum Syariah dan
sebagainya. Berikut adalah sebahagian dari
karangan-karangan beliau;

������ �� ���� ��� �������� ��������� �� �����


���� �� ���� ��� ��������

����� �� ���� ��� ��� ����� ������
������� �� ���� �������

������ ����������
���� �������� �� �������


Imam al-Khatib al-Baghdadi wafat 463H
berkata; �Abul Hasan al-Asyari merupakan ahli kalam,
pemilik kitab-kitab dan karangan-karangan dalam
menentang orang yang Mulhid(kafir) juga kitab-kitabnya
yang menentang dan menolak Muktazilah, Rafidah,
Jahmiah, Khawarij dan lain-lain golongan ahli bidaah.�
Sementara Ibnu Khilikan wafat 681H pula berkata; �
Beliau merupakan ahli usul, bangun membantu golongan
Sunnah dan puak-puak Asyairah
dinisbahkan kepadanya. Kemasyhurannya sudah cukup
dan tidak perlu untuk diperpanjangkan dalam usaha
mengenalinya.�

Marhalah yang dilalui oleh beliau;

Hampir kesemua Maraji� sepakat bahawa
beliau telah melalui beberapa marhalah hidup dari satu
mazhab kepada yang lain. Marhalah-marhalah yang
dilalui beliau adalah terbahagi kepada tiga peringkat
zaman[4];

Pertama; berada dalam mazhab Muktazilah, iaitu beliau
berpegang dengan mazhab itu, berkata dengan
pendapat-pendapat mereka sehinggalah beliau merupakan
imam yang terkenal dalam mazhab Muktazilah.

Kedua; Keluar dari Muktazilah dan cenderong kepada
aqidah ahli Sunnah tetapi belum memahami sepenuhnya.
Dalam proses ini beliau telah mengikuti pegangan yang
dibawa oleh Abdullah bin Said bin Kilab.[5] Hal ini
dapat dilihat dalam kitabnya (al-Luma� fi Raddi al
Ahlizzaigh Wal Bida�) apabila beliau menyerang
Muktazilah dengan keras sedangkan beliau tidak
menyebut nama imam Ahmad bin Hambal serta menyeru
untuk mengikuti I�tiqadnya(Imam Ahmad) seperti yang
tertulis dalam karangan beliau yang lain iaitu
al-Ibanah. Begitu juga dalam zaman ini beliau tidak
menyebutkan masalah-masalah sifat yang di imani oleh
Salaf seperti wajah, Istiwa�, tangan dan
sebagainya.[ 6]

Ketiga; Mengiklankan dan menisbahkan aqidahnya kepada
imam Ahmad bin Hambal, iaitu beri�tiqad dengan akidah
dan mazhab ahli Sunnah Waljamaah. Kenyataannya[ 7] ini
menunjukkan bahawa beliau telah mengkaji karangan imam
Ahmad dan akur dengan pegangannya dalam masalah aqidah
sebagai contoh dalam sifat kalam Allah. Di sebutkan
bahawa punca keluarnya beliau dari muktazilah ialah
apabila beliau bermimpi bertemu Rasullah sebanyak
3kali dan kesemua Nabi meminta supaya beliau mengikuti
Manhaj dan Sunnah baginda.[8]

Manhaj imam Abul Hasan;

Beliau bermanhajkan aqidah ahli sunnah waljamaah.
Berpegang dengan kata-kata salaf dalam permasalahan
berkait dengan sifat-sifat Allah. Berkata Dr. Mohd Abu
Zuhrah[9] tentang manhaj Abul Hasan dan beliau
meringkaskannya dalam 4 nota penting;

1/ Syeikh Abul Hasan beri�tiqad bahawa wajib
mengambil setiap yang datang dari al-Quran dan
as-Sunnah dalam permasalahan aqidah.

2/ beliau mengambil zahir nusus yang terkandung dalam
ayat yang disangka orang bahawa ayat tersebut adalah
tasybih tanpa beliau terjerumus dalam
tasybih(penyerupaan ). Beliau beri�tiqad bahawa bagi
Allah itu wajah tidak seperti wajah makhluk, bagi
Allah itu tangan tidak seperti tangan makhluk.

3/ beliau beri�tiqad bahawa hadis-hadis ahad menjadi
hujah dalam permasalahan aqidah, beliau telah
menjelaskan pegangan banyak perkara aqidah yang sabit
dengan hadis-hadis ahad.

4/ beliau juga beranggapan supaya menjauhi ahlil ahwa
(pengikut hawa nafsu) kesemuanya, antara mereka ialah
muktazilah dan beliau berijtihad untuk tidak
tergelincir seperti tergelincirnya orang-orang yang
sesat.

Kemudian syeikh Abu Zuhrah menambah dengan
kata-katanya; �al-Asyari ketika beristidlal dalam
permasalahan aqidah telah melalui jalan naqal
(al-Quran dan Sunnah) dan aqal. maka beliau telah
mengisbatkan apa-apa yang datang dari al-Quran dan
hadis yang menggambarkan tentang Allah, Rasul, hari
Qiamat, Malaikat, Hisab, azab, pahala dan lain-lainnya
lantas meyokongnya dengan dalil-dalil aqal dan
bukti-bukti mantik��[10]

Pertentangan& perbezaan golongan asyaierah terhadap
manhaj abul hasan;

Untuk mengelakkan tulisan ini meleret dan
berpanjangan, sila rujuk karangan-karangan beliau yang
seperti berikut; risalah ila ahli as-saghar bibabil
abwab[11] (sifat Fauqiyah dan Arasy). Kitab
Usuluddin[12] (sifat tangan bagi Allah dalam satu
hadis penciptaan adam). Kitab al-Ibanah secara umum.
Apa yang dapat disimpulkan disini ialah, golongan ahli
sunnah waljamaah tidak menamakan mereka dengan
nama-nama lain selain sunnah. Ramai kalangan mendakwa
bahawa mereka adalah golongan ahli sunnah sedangkan
mereka adalah muktazilah, syiah, Jahmiah dan
sebagainya yang bertentangan jelas dengan al-quran dan
sunnah dan fahaman salaf. Jika golongan Asyaerah,
Maturidiah ataupun Muktazilah mendakwa mereka adalah
ahli sunnah, maka kita tertanya-tanya adakah pengasas
mazhab yang empat abu hanifah, malik, syafie dan imam
Ahmad tidak sunnah? Adakah para Sahabat dan tabiin
bukan ahli sunnah? Ini kerana kemunculan firqah
asyaierah dan maturiah secara khusus adalah pada
penghujung kurun kedua hijrah iaitu tahun dua ratusan
lebih. Realitinya, menasabkan mazhab asyaerah kepada
pengasasnya abul hasan adalah tidak tepat kerana pada
peringkat ketiga beliau telah menolak banyak
pandangannya sendiri yang berada pada peringkat zaman
pertama dan kedua (muktazilah dan kullabiah). Wallahu
a�lam.

Kembali ke rahmatullah;

Beliau wafat pada tahun 324H [13]. Terkenal sebagai
ulama yang zuhud dan kuat beribadah. Beliau
meninggalkan anak murid yang ramai antara mereka
ialah; abul hasan al-bahili al-basri, abul husin
Bandar bin husin as-syirazi, abu abdillah al-asfahani
dan abu zaid al-marwazi. Selain itu beliau juga
berguru kepada abu ishak al-marwazi wafat 340H,
al-hafiz zakaria as-saji wafat 307H dan ibnu suraij
wafat 306H. Moga-moga syeikh abul hasan al-asyari di
ganjari syurga bersama-sama an-nabiyyin, as-syuhada
was-solihin, amin.

------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

[1] Sebagian Muarrikhin berpendapat bahawa
kelahirannya ialah pada 170H lihat Wafayat A�yan ibnu
Khilikan wafat 681H, sementara al-Maqrizi pula
mengatakan bahawa beliau di lahirkan pada tahun 166H.
Apapun tahun 260H lebih tepat kerana menepati tarikh
riwayat hidupnya yang menyatakan bahawa beliau berada
dalam mazhab Muktzilah selama 40 tahun sebelum beliau
keluar dari mazhab tersebut iaitu pada tahun 300H.

[2] Abu ali ialah Muhamad bin Abdul wahab bin salam
terkenal sebagai al-Jabai� wafat pada tahun 303H.
beliau adalah imam dalam ilmu kalam dan mempunyai
kata-kata yang masyhur dalam mazhab Muktazilah. Abul
Hasan telah mempelajari ilmu kalam dan mazhab
Muktazilah daripadanya. Lihat Tarikh Baghdad .

[3] Muktazilah adalah mazhab aqidah yang bertentangan
dengan aliran Ahli Sunnah Waljamaah. Mereka
mendahulukan dalil akal berbanding Nas Quran dan Hadis
yang soheh, jika berlaku pertentangan antara keduanya
maka mereka mendahulukan dalil aqal. Mereka juga
menafikan sifat-sifat Allah, menolak pendalilan hadis
Ahad dalam masalah aqidah, mengkafirkan orang islam
yang melakukan dosa besar dan banyak lagi pegangan
yang bertentangan dengan ahli sunnah.

[4] Lihat kitab (Tobaqat al-Fuqaha�inda as-Syafieyah)
karangan ibnu Kathir m/s 26 wafat 774H .

[5] Salah seorang ulama falsafah wafat sekitar 240an
Hijrah. Mereka yang mengikuti pegangan ini terkenal
sebagai (kullabiyah) . Mereka mendakwa sebagai ahli
Sunnah sedangkan hakikatnya tidak. Apapun mereka lebih
hampir kepada ahlissunnah secara purata berbanding
golongan yang lain. Syaikhul Islam ibnu Taimiyah wafat
728H berkata; � Abdullah bin Kilab telah mengisbatkan
sifat-sifat yang lazim bagi Allah seperti al-Ilmu,
al-Qudrah, al-Hayat dan menafikan apa-apa yang berkait
dengan sifat Allah seperti Masyi�ah (kehendak Allah)
dalam perbuatan. Begitu juga beliau menafikan sifat
al-Maji�(datang) dan lain-lainnya. Dan umat islam
dalam hal ini ketika itu hanya kepada 2golongan,
golongan Salaf yang mengisbatkan sifat dan golongan
yang menolak dan menafikan sifat-sifat Allah.

[6] Dalam zaman kedua ini (mengikuti aliran dan
pandangan ibnu Kullab) sila rujuk al-Khutot lil
Maqrizi 3/308 wafat 845H.

[7] Lihat muqaddimah kitab beliau al-Ibanah.

[8] Lihat Tobaqat as-Syafieyah karangan as-Suyuti
3/348 wafat 911H.

[9] Beliau ulama mesir terkenal mempunyai banyak
karangan antaranya; tarikh al-mazhab al-islamiah,
muqaranah al-adyan, ibnu hambal zamannya&hidupnya, dan
ibnu taimiyah zamannya dan hidupnya.

[10] Lihat kitab beliau; ibnu Taimiyah hidup dan zaman
beliau - pandangan-pandangan fiqhnya m/s 189-191.

[11] m/s 241 cetakan al-jamiah al-islamiah tahkik dan
dirasah dr. Abdullah syakir

[12] m/s 111.

[13] Lihat Al-bidayah wan nihayah libnu kathuir dan
tobaqat as-syafieyah lissuyuti.

Wednesday, April 9, 2008

Satu abad Ulama Besar BUYA PROF. DR HAMKA

"Topeng Perak" poji2ya@gmail.com


Satu abad Ulama Besar
BUYA PROF. DR HAMKA


Pada Mei 1981 Indonesia dihebohkan oleh fatwa mengharamkan umat Islam hadir pada perayaan Krismas (Natal). Fatwa itu oleh Majlis Ulama Indonesia (MUI), surat
rasmi yang mengandungi fatwa itu adalah pengerusi MUI, Prof Dr Hamka. Sebab itu Menteri Agama Indonesia, Leftenan Jeneral (B) Alamsjah Ratuperwira Negara, mengugut, seandainya fatwa itu tidak ditarik kembali dia akan mengundurkan diri daripada jawatan menteri agama. Namun Buya Hamka menjawabnya bahawa fatwa itu tidak boleh ditarik balik kerana berasa bertanggungjawab di hadapan Allah dan umat Islam. Sebagai penyelesaian, Buya Hamka sedia meletak jawatan sebagai pengerusi MUI. Katanya bukan menteri agama yang harus berundur kerana jawatan menteri adalah jawatan kerajaan.


Begitulah prinsip perjuangan Buya Hamka yang yakin akan kebenaran fatwa itu yang berlandaskan nas yang sahih iaitu Al Quran dan As Sunnah serta ijmak dan qiyas. Apabila beliau meletakan jawatan sebagai pengerusi MUI pada 18 Mei 1981, ribuan panggilan telefon dan telegram diterimanya mengucapkan syabas dan tahniah atas ketegasannya mempertahankan prinsip dan fatwa itu. Hal ini membuat Buya Hamka terkejut, kerana semasa beliau dilantik sebagai pengerusi MUI pada tahun 1975, beliau tidak menerima ucapan serupa. Begitulah Buya Hamka, ulama besar karismatik, yang juga mufasir, penulis dengan ratusan buku dan puluhan ribu artikel. Beliau juga seorang sasterawan/ pujangga, penceramah dan pemidato ulung yang sentiasa dinanti suara dan nasihatnya, selain pensyarah dan juga pemimpin adat bagi suku kaumnya di Minangkabau kerana nama lengkap beliau adalah Prof Dr Hamka Datuk Indomo.

Bagi Hamka, MUI yang ditubuhkan pada 26 Julai 1975 adalah pertubuhan yang berperanan menjadi jambatan antara keinginan rakyat Indonesia yang majoritinya beragama Islam, dengan hasrat kerajaan selagi hal itu tidak bertentangan dengan syarak. Begitu beratnya tanggungjawab sebagai pemimpin MUI, Hamka mengibaratkan MUI ini bagaikan memasak kuih bengkang... atas dan bawahnya panas kerana ada api. Di satu sisi berjuang untuk menjaga akidah umat, di lain sisi perlu menjaga kehendak kerajaan yang ada kalanya tidak sehaluan dengan kehendak hati dan nurani umat.

Keluarga Ulama

Ulama besar yang lahir pada 17 Februari 1908 di Sungai Batang, Maninjau, Minangkabau, Sumatera Barat ini, jika masih hidup bererti pada 17 Februari 200 lalu, usianya cukup satu abad. Beliau meninggal di pagi Jumaat bulan Ramadhan, 24 Julai 1981, dua bulan selepas meletak jawatan sebagai pengerusi MUI. Beliau meninggal dalam usia 73 tahun 5 bulan, disaksikan sahabat seperjuangan, Dr Mohammad Natsir. Pagi itu cuaca Jakarta begitu teduh dan damai, sebaik sahaja jenazah beliau dikuburkan di perkuburan Tanah Kusir, Jakarta, selepas sembahyang Jumaat, Jakarta kemudiannya dicucuri hujan yang begitu lebat.

Tuesday, April 1, 2008

story of the Shaykh from Azhar and the prostitute

"Mohd Yaakub" akob73@yahoo.com

Did you hear of the story of the Shaykh from Azhar and
the prostitute?
http://www.ahlalhde eth.com/vbe/ showthread. php?t=1857

No �

Well, there you go, as was narrated by Shaykh Ali
Tantawi [May Allah have mercy on him] in his memoir
about Shaykh Ahmad Al-Zayaat [May Allah have mercy on
him].

Shaykh Ali Tantawi said:

�The Shaykh (Ahmad Al-Zayaat) was a teacher, who did
not know anything of this world except: The Azhar
where he used to teach, the house he used to live in,
and the road between them.

As years passed by, and he got older, his health
started to deteriorate, and he needed to rest. So the
doctor forced him to take some time of, and suggested
that he goes somewhere away from his place of work and
residence, and advised him to enjoy the quietness and
calmness of the parks next to the Nile.

So one day, the Shaykh went out and stopped a carriage
(as cars were not that available at the time). He told
the driver: My son, take me to a nice place were I can
enjoy the view and relax.

The driver of the carriage, however, was a wicked
person, and took the Shaykh to a place in Egypt, which
at the time had several prostitution houses.

After arriving he told the Shaykh: Here [we are].

The Shaykh said: O son, Magrib prayer is drawing near,
where can I pray? Take me first to the Masjid.

The Driver [pointing to one of those houses] said: The
Masjid is over there.

The door [of the place] was open, and the lady running
that house was sitting, in the manner those like her
usually sit.

When the Shaykh saw her, he lowered his gaze. He saw a
seat, so he headed there and sat, waiting for the Call
for prayer (Adhan).

[The woman in confusion, just] stared at him.

What brought that man here?

He doesn�t look like any of her regular customers.

She kept thinking to herself, but did not dare ask him
what he was doing here.

What kept her from asking was the shyness that
remained in her heart, even as a prostitute. However,
that shyness only appears in front of people of Piety.

He, on the other hand, kept doing Tasbeeh (saying
Subhan Allah), whilst looking at his watch, until he
heard the Adhan of Maghrib from far away.

He asked her: Where is the Moazin (Person who calls
for prayers) here?

Why didn�t he call for prayer when the time entered?

Are you his daughter?

She � kept silent.

He waited for a while, and then said: My daughter,
Maghrib time is short, and it is not permissible to
delay it, and I do not see anyone here, so if you have
your Wudu (ablution) then pray behind me Jama�ah.

He gave the call for prayer, and without looking at
her, as he was about to give the Iqamah, he noticed
stillness behind him?!

He asked: What is wrong? Don�t you have your Wudu?

All of a sudden, as if her Iman (Faith) woke up and
she remembered the old days. The days when she was
filled with purity, and was away from sin, she started
to cry loudly, and threw herself at his feet.

The Shaykh surprised, did not know in what way he can
calm her.

She then, started narrating her story.

He saw in her words great regret, and felt the truth
in her repentance. He realized the sincerity in what
she was saying, so he told her: Listen, my daughter,
to what the Lord of all creation says: {Say, �O My
servants who have transgressed against themselves [by
sinning], do not despair of the Mercy of Allah. Indeed
Allah forgives all sins ��} (39:53).

All sins, my daughter, all sins �

The door of repentance is open to every sinner and it
is so wide that it can encompass them all no matter
how heavy their load [of sins] is � even Kufr.

So whoever disbelieves in the all Mighty, after he was
a believer, but repents before the hour of his death
comes, and he was sincere in his repentance, and he
renewed his Islam, Allah will accept him.

Allah, my dear daughter, is the most Generous of all.
Did you ever hear of anyone generous shutting the door
in the face of those who come seeking him?

Stand up and go wash yourself, and cover yourself. Go
and clean your skin with water and your heart with
repentance and regret. Approach your Lord, and I will
wait for you.

But do not delay, so that we do not miss Maghrib
prayer.

She did as he asked, and returned to him with a new
dress and a new heart. She stood behind him and
prayed. She felt and tasted the sweetness of that
prayer, and felt that this prayer purified her heart.

When the prayer was over, he told her: Come with me,
and try to cut every relation you have with this place
and everyone in it. Try to erase the time you spent
here from your memory.

Consistently ask Allah for his forgiveness, and
increase in doing righteous deeds.

Verily, adultery is not as big a sin as Kufr, and Hind
[bint �Utbah � May Allah be pleased with her], who was
a disbeliever and had animosity in her heart to the
Prophet of Allah. After that she became from the
righteous believers, and we started saying: Allah is
well-pleased with her.

The Shaykh then took her to a house of righteous
ladies, and then found her a righteous husband and
advised him to take good care of her� 1/252.

[Original writer in Arabic forum said]: Notice [May
Allah shower you with Mercy] the state of this woman,
how she was and how she changed. It was nothing more
than simple words from an old man that led her into
changing her life upside down.

So if you only think how many people are just like
this woman.

People who are drowning in filth, people who the dust
from their sins gathered around their hearts shedding
away its light.

These sins caused them to see the Truth as Falsehood
and the Falsehood as Truth.

How much are they in need of one to take by their
hands, and to clear the dust away from their hearts.

They do not need complicated educational and
behavioral philosophical treatments, or theories in
the manners of interaction and persuasion. Neither are
they in need of complicated statements.

What they truly need is for someone to feel sorry for
them and for their state � Someone to understand their
situation and to hope for their guidance � Someone who
would speak a word that would leave his heart, [and
touch theirs]. A word which he seeks nothing from
except the Face of Allah.

After this the light, that was for so long covered
with sins, would emerge and their souls would return
to its Fitrah, and would return to its harmony with
the universe and to the true manner of life.

Original Arabic:
http://www.ahlalhde eth.com/vb/ showthread. php?p=671170

learned men {al-Ghazali}

"PH Pro" phpro_indonesia@yahoo.com

Assalamu'alyakum wa Rahmatullahi wa Barakatuhu
(May the peace, mercy and blessings of Allah be with you)
BismillahirRahmanir Rahiim
(In the name of Allah, the Most Benevolent, the Most Merciful)
Do not be like the deceived fools
who are joyous because each day their wealth increases
while their life shortens.
What good is an increase in wealth when life grows ever shorter?
Therefore be joyous only for an increase in knowledge or in good works,
for they are your two companions who will accompany you in your grave
when your family, wealth, children and friends stay behind.
- Imam al-Ghazali, from The Beginning of Guidance, page 23 -
Peace of heart comes from a heart free of anxiety.
Anxiety is caused by the weight of all that is material.
Material weigh the heart down and prevent it from soaring.
Soaring of the heart comes from remembering Allah (Ta'ala)
- 'Ali bin Abu Talib, in 'Patience and Gratitude' by Ibn Qayyim al-Jawziyyah -
I have been so naughted in Thy Love's existence
that my nonexistence is a thousand times sweeter than my existence
- Mawlana Jalal'uddin Muhammad Balkhi al-Rumi -
Give gifts to each other and love each other, and hatred will disappear.
- Sayyedina Muhammad (salAllahu'alayhi wasalam), Al-Muwatta Vol 47, Hadith 16 -
And love your Lord by serving Him
For lovers are but servants of the Beloved
- A Poet -
What you love to have with you in the hereafter, you should advance today,
and what you hate to have with you, you should abandon today
- Salman bin Dinar -
Does money upset the hearts of learned men?
He answered, "Men whose hearts are changed by money are not learned"
- Abu Hamid al-Ghazali -
Excerpts from:
The Last Prophet Muhammad (saws), Sahaba, Sufis and Saint's lectures and quotes from received e-mails.
(Forwarded from Kadam AG)