"ctumi2000" ctumi2000@yahoo.com
Rasulullah saw pernah ditanya oleh salah seorang sahabatnya perihal
siapakah teman duduk yang paling baik. Rasulullah menjawab, "Orang
itu adalah yang bila kamu lihat, dapat mengingatkanmu kepada Allah,
menambahkan ilmumu dalam pembicaraannya, dan mengingatkanmu kepada
akhirat dari amal-amalnya. " Orang-orang yang memiliki sifat seperti
diatas-lah yang paling pantas untuk dijadikan teman duduk.
teruskan membaca .....
Singgahlah Di Taman Surga
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani, Rasulullah
bersabda, "Apabila melewati taman surga, hendaklah engkau duduk di
situ. Istirahatlah kamu di situ." Para sahabat bertanya, "Ya
Rasulullah, apa taman surga itu?" Nabi menjawab, "Majelis-majelis
ilmu." Dalam hadits lain diceritakan, Rasulullah pernah masuk ke
sebuah majelis. Di majelis itu, tampak ada dua kelompok; dimana yang
pertama sedang berzikir, sementara yang kedua sedang mempelajari
ilmu. Rasulullah bersabda, "Kelompok pertama adalah kelompok yang
baik. Mudah-mudahan Allah mengampuni mereka. Sedangkan kelompok
kedua yang sedang mempelajari ilmu, mudah-mudahan Allah membimbing
mereka ke jalan yang lurus." Kemudian beliau memilih duduk bersama
kelompok majelis ilmu.
Rasulullah saw pernah ditanya oleh salah seorang sahabatnya perihal
siapakah teman duduk yang paling baik. Rasulullah menjawab, "Orang
itu adalah yang bila kamu lihat, dapat mengingatkanmu kepada Allah,
menambahkan ilmumu dalam pembicaraannya, dan mengingatkanmu kepada
akhirat dari amal-amalnya. " Orang-orang yang memiliki sifat seperti
diatas-lah yang paling pantas untuk dijadikan teman duduk.
Majelis ilmu, yang didalamnya terdapat orang-orang berilmu dan para
pencari ilmu, bukankah Allah memuliakan dan meninggikan derajat
mereka karena keberimanan mereka dan ilmu yang mereka miliki? " ...
Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah maha
mengetahui apa yang kamu kerjakan". (QS. Al Mujaadilah:11) .
Jelas, dalam kehidupan ini sangat terlihat perbedaan antara orang-
orang berilmu dengan mereka yang tidak berilmu. Perbedaan itu bisa
mencakup soal perolehan kualitas dan kemapanan hidup, kemampuan
untuk memenangkan persaingan hidup, dan bahkan terbukanya kesempatan
yang lebih besar untuk lebih mengenal dan mendekatkan diri dengan
Allah Sang Pemilik Ilmu. Inilah hakikat dari sebuah ungkapan yang
berbunyi, "Barangsiapa yang ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia,
maka raihlah dengan ilmu. Barangsiapa yang menghendaki kebahagiaan
di akhirat, dengan ilmu. Dan barangsiapa yang ingin mendapatkan
keduanya, juga dengan ilmu".
Dengan ilmu, Nabi Allah Yusuf alaihi salam membebaskan dirinya dari
kurungan penjara dan kemudian ilmu jugalah yang menempatkan Yusuf
pada kedudukan yang terhormat dan menjadi seorang raja yang bijak.
Dengan ilmu, Muhammad muda mendapatkan gelar al amiin, dimana secara
bijak Muhammad mempersatukan empat pemimpin kabilah yang berseteru
dalam peristiwa pemindahan batu hajar aswad. Berkat ilmu yang
dimiliki Salman al Farisi dengan ide dan strategi pembuatan parit,
Rasulullah bersama pasukannya memenangkan perang Khandaq. Dan masih
banyak contoh yang pernah hadir di muka bumi ini tentang keutamaan
dan keunggulan orang-orang yang berilmu. Bahkan bisa jadi, dengan
mengesampingkan cerita-cerita macam si pandir, seperti menjadi suatu
yang aksiomatis (kebenaran yang tidak terbantahkan) bahwa sampai
kapanpun orang-orang berilmu akan selalu unggul daripada yang tidak
berilmu.
Namun yang perlu diingat, ilmu yang dimiliki tanpa diimbangi dengan
kekuatan iman, maka muncullah orang-orang yang sombong, yang
berjalan dengan angkuh dimuka bumi oleh karena ilmunya. Mereka,
seperti Haman ilmuan yang dipunyai Fir'aun, mempersembahkan
kecerdasannya untuk mengabdi kepada kezaliman. Kepandaian yang
dimiliki seringkali dipergunakan untuk berbuat licik dan curang.
Bahkan tidak jarang dimanfaatkan untuk "meminteri" orang-orang bodoh
dan lemah.
Sekali lagi, betapa pentingnya majelis-majelis ilmu untuk kita
dekati dan singgahi, karena jelas-jelas dalam beberapa ayat, Allah
begitu memuliakan dan membedakan orang-orang yang berilmu. "Apakah
sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?" (QS. Az
Zumar:9). "Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?"
(QS. Al An'am:50, Ar Ra'd:16). "Apakah sama kegelapan dengan
cahaya?" (Ar Ra'd:16). Wallahu a'lam bishshowaab
©MUNAWIR SADZALI RAZAK, awal 2003, taken from eramoslem.com
http://www.munawir. cjb.net
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment