Sunday, February 10, 2008

Jangan dekati zina

"ctumi2000" ctumi2000@yahoo.com

JANGAN DEKATI ZINA

Oleh : Imam Ibnu Qayyim Al-jauziyah

Bahaya Zina

Melihat bahwa bahaya yang ditimbulkan oleh praktek zina merupakan
bahaya yang tergolong besar, dan praktek tersebut juga bertentangan
dengan aturan universal yang diberlakukan untuk menjaga kejelasan
nasab keturunan, menjaga kesucian dan kehormatan diri, juga
mewaspadai hal-hal yang menimbulkan permusuhan serta perasaan benci
di antara manusia disebabkan pengrusakan terhadap kehormatan isteri,
putri, saudara perempuan dan ibu mereka. Dan ini jelas akan merusak
tatanan kehidupan. Melihat hal itu semua, pantaslah bahaya praktek
zina itu -bobotnya- setingkat di bawah praktek peembunuhan. Oleh
karena itu, Allah I menggandeng keduanya di dalam Al-Qur'an dan
juga Rasulullah dalam keterangan hadits beliau.

Al-Imam Ahmad berkata: "Aku tidak mengetahui sebuah dosa -setelah
dosa membunuh jiwa- yang lebih besar dari dosa zina."

Dan Allah menegaskan pengharamannya dalam firmanNya:

"Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain beserta Allah dan
tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali
dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang
melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),
(yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari Kiamat dan
dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina kecuali orang-
orang yang bertaubat ..." (Al-Furqan: 68-70).

Dalam ayat tersebut, Allah menggandengkan zina dengan syirik dan
membunuh jiwa, dan vonis hukumannya adalah kekal dalam adzab berat
yang berlipat ganda, selama pelakunya tidak menetralisir hal
tersebut dengan cara bertaubat, beriman dan beramal shalih. Allah I
berfirman:

"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah
suatu perbuatan yang keji (fahisyah) dan suatu jalan yang buruk."
(Al-Isra': 32).

Di sini Allah menjelaskan tentang kejinya praktek zina dan
kata "fahisyah" maknanya adalah perbuatan keji atau kotor yang sudah
mencapai tingkat yang tinggi dan dapat diakui kekejiannya oleh
setiap orang berakal bahkan oleh sebagian banyak binatang,
sebagaimana disebutkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Amr bin
Maimun Al-Audi, dia berkata: "Aku pernah melihat -pada masa
jahiliyah- seekor kera jantan yang berzina dengan seekor kera
betina. Lalu datanglah kawanan kera mengerumuni mereka berdua dan
melempari keduanya sampai mati."()

Kemudian Allah juga memberitahukan bahwa praktek zina adalah seburuk-
buruk jalan; karena merupakan jalan kebinasaan, kehancuran dan
kehinaan di dunia, siksaan dan azab di akhirat nanti.

Dan karena menikahi mantan isteri-isteri ayah itu termasuk perbuatan
yang sangat jelek sekali, Allah I secara khusus memberikan "cela"
tambahan bagi praktek menikahi isteri orang tua. Allah berfirman
(setelah secara tegas melarang kaum muslimin untuk menikahi isteri-
isteri ayah mereka, pent):

"Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-
buruk jalan (yang ditempuh)." (An-Nisa': 22).

Allah I juga menggantungkan keberuntungan seorang hamba pada
kemampuannya dalam menjaga "kehormatan" nya. Tak ada jalan menuju
keberuntungan tanpa menjaga "kehormatan" . Allah berfirman:

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-
orang yang khusyu' dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan
diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-
orang yang me- nunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga
kemaluannya kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang
mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang
yang melampaui batas." (Al-Mukminun: 1-7).

Dalam ayat-ayat ini ada tiga hal yang diungkapkan, yaitu, pertama,
bahwa orang yang tidak menjaga kemaluannya, tidak akan termasuk
orang yang beruntung, kedua , dia akan termasuk orang yang tercela,
dan ketiga, dia termasuk orang yang melampaui batas. Jadi, dia tidak
akan mendapat keberuntungan, serta berhak mendapat
predikat "melampaui batas' dan jatuh pada tindakan yang membuatnya
tercela, padahal beratnya beban dalam menahan syahwat itu, lebih
ringan ketimbang menanggung sebagian akibat yang disebutkan tadi.

Selain itu pula, Allah telah menyindir manusia yang selalu berkeluh
kesah, tidak sabar dan tidak mampu me- ngendalikan diri saat
mendapatkan kebahagiaan, demikian pula kesusahan. Bila mendapat
kebahagiaan, dia menjadi kikir, tak mau memberi, dan bila mendapat
kesusahan, dia banyak mengeluh. Begitulah sifat umum manusia,
kecuali orang-orang yang memang dikecualikan dari hambaNya, yang
diantaranya adalah mereka yang disebut di dalam firmanNya :

"Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap
isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka
sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari
yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui
batas." (Al-Ma'arij: 29-31).

Oleh karenanya, Allah memerintahkan Rasulullah r untuk memerintahkan
orang-orang mukmin agar menjaga pandangan dan kemaluan mereka, juga
diberitahukan kepada mereka bahwa Allah selalu menyaksikan amal
perbuatan mereka.

"Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang
disembunyikan oleh hati." (Ghafir: 19).

Dan karena ujung pangkal dari perbuatan zina yang keji ini dari
pandangan mata, maka Allah lebih mendahulukan perintah untuk
memalingkan pandangan mata sebelum perintah untuk menjaga kemaluan,
karena banyak musibah besar yang asal muasalnya adalah dari
pandangan; seperti kobaran api yang besar asalnya adalah percikan
api yang kecil. Mulanya hanya pandangan, kemudian khayalan,
kemudian langkah nyata, kemudian terjadilah musibah yang merupakan
kesalahan besar(zina).

Oleh karenanya, ada yang mengatakan, bahwa barangsiapa yang bisa
menjaga empat hal maka berarti dia telah menyelamatkan agamanya: Al-
Lahazhat (pandangan pertama), Al-Khatharat (pikiran yang melintas di
benak), Al-Lafazhat (lidah dan ucapan), Al-Khathawat (langkah nyata
untuk sebuah perbuatan).

Dan seyogyanya, seorang hamba Allah itu bersedia untuk menjadi
penjaga dirinya dari empat hal di atas dengan ketat, sebab dari
situlah musuh akan datang menyerangnya, merasuk ke dalam dirinya dan
merusak segala sesuatu.


http://www.geocitie s.com/aldi510198 0/Zina.htm

No comments: